Rabu (03/04/19) PK.IPNU
MA Nasy'atul Mutaallimin meneruskan rekam jejak kepengurusan sebelumnya yang
sudah berpredikat demisioner, sebagai penerus perjuangan, PK.IPNU NASA tahun
ini melanjutkan program kaderisasi yang memang sudah menjadi suatu hal yang
wajib untuk kelulusan para siswa di MA Nasy'atul Mutaallimin, lebih tepatnya
yaitu kegiatan makesta. Kegiatan yang sukses diadakan pada masing masing
kepengurusan sebelumnya, kini terlaksana dengan kemasan baru pastinya.
K.dardiri Zubairi selaku kepala MA.Nasy'atul Mutaallimin membuka acara
tersebut, pada kesempatan itu juga beliau memancing pemikiran para siswa dengan
pencerahan dan pengajaran yang beliau suguhkan. Merupakan sebuah pagi yang
sangat beruntung bagi para kader NU muda MA Nasy'atul Mutaallimin bisa
mendengarkan langsung suguhan ilmu dari sosok karismatik itu yang juga
merupakan wakil ketua PCNU kabupaten sumenep. Makesta pada tahun ini jelas
berbeda dengan tahun sebelumnya walau tidak sepenuhnya berbeda namun kita bisa
merasakan ada nuansa baru pada makesta tahun ini. Ada beberapa materi yang
tidak ada pada tahun sebelumnya. Artinya, materi kali ini menyesuaikan dengan
eksistensi zaman yang ada. Di antara lain; Lawan Kawan, dan hubungan antara
pesantren dan NU. Materi ini juga disampaikan oleh pemateri yang memang pakar
dalam bidangnya masing masing, yakni k.syahid munawar S.Pd (ketua tahnfidziyah
MWCNU gapura dan bapak suyuthi M.H.I (wakil katib MWC NU gapura), pada penyampaiannya
bapak suyuthi membahas tentang apa itu NU dan apa itu pesantren, relasi
pesantren dan NU, dan sejauh apa keharmonisan di antara keduanya, selain itu
juga beliau menjelaskan tentang bagaimana kedudukan pesantren pada zaman ini,
"pada awalnya pesantren merupakan metode pembelajaran yang dianggap kolot,
dan seringkali santri dicap sebagai kaum sarungan yang tidak tahu apa apa,
namun fakta yang ada sekarang ini, pesantren itu dilirik oleh para politisi
untuk memperoleh suara dari rakyat karena pesantren saat ini bisa dikatakan
sebagai peradaban ilmu pengetahuan" tutur beliau pada kesempatannya
tersebut.
Nuansa baru pada makesta itupun bukan hanya pada kedua materi di
atas, namun ada lagi salah satu kegiatan yang tidak hanya fokus kepada pembelajaran
namun juga melatih kader untuk berinteraksi langsung kepada para tokoh NU di
desa gapura timur untuk menanyakan sedikit banyak tentang eksistensi NU yang
ada di desa gapura timur, kegiatan ini adalah kegiatan rihlah, yakni kegiatan
yang diadopsi dari kegiatan PKPNU. bukan hanya sampai di situ saja , setelah
itu, perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil wawancaranya di depan
kader muda yang lain, hal ini juga diharapkan mampu untuk melatih kader muda
tersebut dalam kemampuan public speaking, karena seperti yang dijelaskan oleh
k.dardiri zubairi pada sambutannya saat pembukaan bahwa kecerdasan tanpa
kemampuan public speaking adalah tidak sempurna, karena tanpa kemampuan
tersebut seseorang hanya cerdas, namun tidak bisa menyalurkan gagasannya. Kegiatan
makesta tersebut berjalan dua hari dengan 5 materi dan beberapa kegiatan
lainnya. Dan pada akhirnya kamis (04/04/19) pukul 20.30 para kader muda
mengucapkan janji sucinya di depan kepala sekolah sebagai pembaiat dan beberapa
guru, juga perwakilan dari cabang IPNU sumenep turut menyaksikan acara sakral
itu. Ribuan lilin menyala dalam kegelapan menandakan atribut anggota sudah
tersematkan di hati mereka masing masing (Akil)
Tampilkan postingan dengan label pojok madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pojok madrasah. Tampilkan semua postingan
Ulang Tahun Sanggar Kencana
MA putri Nasy'atul Muta'allimin Gapura pada tanggal 18 Januari 2019 dengan menghadirkan cerpnis nasional Juwairiyah Mawardi, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sekali untuk mengenang sanggar kencana sebagai wadah untuk belajar sastra di lingkungan madrasah aliyah putri.
kegiatan yang diawali dengan lomba kreasi puisi yang diikuti oleh perwakilan kelas se MA putri NASA dengan juri Matroni Muserang, F. Rizal Alief dan Khairul Umam.
dalam acara itu ditutup dengan seminar kesastraan yang di isi oleh Juwairiyah Mawardi yang banyak bercerita tentang proses kreatif menulis. mengapa harus sastra? bagi mbk Joe (panggilan akrab Juwairiyah Mawardi) karena hanya sastra yang mampu dunia rasa. bukan agama, bukan politik. sampai ia mencohtohkan novel tenggelamnya kapal vanderwech yang berkisah kesedihan, dan cerita sastra.
hal itu utama dan pertaman yang dilakukan oleh penulis adalah membaca. membaca merupakan alat utama bagi penulis. sampai mbk Joe bercerita anaknya yang baru MI sudah mampu menulis.
kegiatan yang diawali dengan lomba kreasi puisi yang diikuti oleh perwakilan kelas se MA putri NASA dengan juri Matroni Muserang, F. Rizal Alief dan Khairul Umam.
dalam acara itu ditutup dengan seminar kesastraan yang di isi oleh Juwairiyah Mawardi yang banyak bercerita tentang proses kreatif menulis. mengapa harus sastra? bagi mbk Joe (panggilan akrab Juwairiyah Mawardi) karena hanya sastra yang mampu dunia rasa. bukan agama, bukan politik. sampai ia mencohtohkan novel tenggelamnya kapal vanderwech yang berkisah kesedihan, dan cerita sastra.
hal itu utama dan pertaman yang dilakukan oleh penulis adalah membaca. membaca merupakan alat utama bagi penulis. sampai mbk Joe bercerita anaknya yang baru MI sudah mampu menulis.
CATATAN MONITORING PERTAMA MPS PUTRA MA NASA GAPURA
Catatan Posko I
Dua hari sebelum pemberangkatan, panitia ditanya oleh salah salah satu GPL di Aula tempat pembekalan, kenapa Ketua IPNU disandingkan dengan siswa teladan tahun kemarin? Mereka berdua sama-sama pintar, buktinya kemarin mereka berdua yang diutus ikut lomba, panitia kurang adil, bla-bla-blaaa...
Kami paham, secara sekilas nampak ada ketimpangan dengan posko lain, wajar saja jika kemudian ada komentar atau lebih halus kritik membangun. Saat itu kami hanya menjawab seperlunya saja, inilah hasil proses seleksi panitia, anggap ijtihad kecil-kecilan kami.
Bagi kami, pengabdian di lapangan tak melulu mengandalkan kecerdasan otak, bukan hanya hegemoni mereka yang diberi kecerdasan lebih, bukan! Untuk bisa sukses di masyarakat, diperlukan kecerdasan emosional dan spritual.
Baiklah akan kami ulas, bagaimana pola hubungan peserta dengan pengasuh mushalla? Serta bagaimana interaksk mereka dengan masyarakat sekitar? Adakah program-program unggulan yang menjadi pembeda dari posko lainnya?
Jawabnya...
Catatan Posko I (Part II)
Kegiatan harian, yang dilakukan posko I tak banyak berbeda dengan posko sebelumnya. Untuk memancing simpati masyarakat, mereka juga menjalin shilaturrahim, bertamu atau bertegur sapa bila berpapasan. Membersihkan jalan, membantu pembangunan rumah di depan posko, juga membantu proses pengeringan Ikan di Gudang.
Semua kegiatan di atas, rupanya sukses memikat simpati masyarakat.
Saat kami asyik membahas program kegiatan bimbingan diniyah, salah satu masyarakat tiba-tiba mendatangi posko, memanggil Faidi dan memberi bantuan pinjaman sepeda, "misal ada perlu silahkan dibawa sepeda saya, mau kemanapun silahkan, bahkan jika mau ke Sumenep saya persilahkan. Di rumah masih ada satu lagi tidak terpakai." Kata Bapak itu meyakinkan para peserta pengabdian.
Pola hubungan dengan pengasuh juga lumayan bagus. Mereka diberi kepercayaan membimbing murid diniyah sore hari. Sementara untuk formal pagi, pengasuh juga meminta sebagian tenaga pengabdian. (Ulasan lebih lengkap, Waka Humas Pak @Ma p. Hari mungkin bisa menambahkan, beliau lama berada di dhalem pengasuh)
Nah...di sinilah kami kira titik lemah posko I, program yang direncanakan, masih kurang menyentuh terhadap masyarakat. Mereka tampak terlalu asyik pada kegiatan bimbingan dan mengajar, baik di lembaga diniyah atau formal.
Saat kami baru sampai (kira-kira pukul 10 lewat beberapa menit, nah...mungkin persiapan Qailulah ini

), masih saja ada anggota posko yang
tidur di dalam posko. Mereka beralasan, masih menunggu panggilan masyarakat ke
gudang Ikan, kira-kira pukul 11. Lantas, bagaimana jika tidak ada panggilan?
Ya...jadilah mereka ibadah Qailulah di awal waktu.
Alih-alih menggerakkan masyarakat, mengatur anggota kelompoknya saja, ketua dengan sekretaris belum bisa. Siapa bertugas membantu di sekolah? Siapa yang harus keliling lingkungan sekitar? Siapa yang bertugas membantu di gudang? Tak ada jadwal, tak ada pembagian tugas, semua berjalan natural, menunggu panggilan masyarakat dan menanti pakon dari pengasuh.
Padahal, jika mereka mau membuka mata lebar-lebar, ada banyak kesempatan yang terbuka untuk posko I.
Sampai di sini, jelas sudah... Pengabdian bukan di ruang kelas, tak bisa hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Butuh kepekaan sosial yang tinggi, kesabaran dan kesungguhan di dalam menjalani.
Sebagai penutup catatan ringkas ini, berikut petikan percakapan panitia dengan Ketua Posko;
Panitia:" Bah... saran, masukan ban daftar hadir GPL ma' tak e esse'e nika? Ca'na baarik GPL-la entar ka'enja
Faidi: " Duh, ganikana pak...baarik laju tak mikkere ka ganika sakale, emok ban se mangganga Juko'''
Panitia: " Ehm...aberrik pestepes GPL"
AMBON-SOLO-BANDUNG-MERAUKE
Dua hari sebelum pemberangkatan, panitia ditanya oleh salah salah satu GPL di Aula tempat pembekalan, kenapa Ketua IPNU disandingkan dengan siswa teladan tahun kemarin? Mereka berdua sama-sama pintar, buktinya kemarin mereka berdua yang diutus ikut lomba, panitia kurang adil, bla-bla-blaaa...
Kami paham, secara sekilas nampak ada ketimpangan dengan posko lain, wajar saja jika kemudian ada komentar atau lebih halus kritik membangun. Saat itu kami hanya menjawab seperlunya saja, inilah hasil proses seleksi panitia, anggap ijtihad kecil-kecilan kami.
Bagi kami, pengabdian di lapangan tak melulu mengandalkan kecerdasan otak, bukan hanya hegemoni mereka yang diberi kecerdasan lebih, bukan! Untuk bisa sukses di masyarakat, diperlukan kecerdasan emosional dan spritual.
Baiklah akan kami ulas, bagaimana pola hubungan peserta dengan pengasuh mushalla? Serta bagaimana interaksk mereka dengan masyarakat sekitar? Adakah program-program unggulan yang menjadi pembeda dari posko lainnya?
Jawabnya...
Catatan Posko I (Part II)
Kegiatan harian, yang dilakukan posko I tak banyak berbeda dengan posko sebelumnya. Untuk memancing simpati masyarakat, mereka juga menjalin shilaturrahim, bertamu atau bertegur sapa bila berpapasan. Membersihkan jalan, membantu pembangunan rumah di depan posko, juga membantu proses pengeringan Ikan di Gudang.
Semua kegiatan di atas, rupanya sukses memikat simpati masyarakat.
Saat kami asyik membahas program kegiatan bimbingan diniyah, salah satu masyarakat tiba-tiba mendatangi posko, memanggil Faidi dan memberi bantuan pinjaman sepeda, "misal ada perlu silahkan dibawa sepeda saya, mau kemanapun silahkan, bahkan jika mau ke Sumenep saya persilahkan. Di rumah masih ada satu lagi tidak terpakai." Kata Bapak itu meyakinkan para peserta pengabdian.
Pola hubungan dengan pengasuh juga lumayan bagus. Mereka diberi kepercayaan membimbing murid diniyah sore hari. Sementara untuk formal pagi, pengasuh juga meminta sebagian tenaga pengabdian. (Ulasan lebih lengkap, Waka Humas Pak @Ma p. Hari mungkin bisa menambahkan, beliau lama berada di dhalem pengasuh)
Nah...di sinilah kami kira titik lemah posko I, program yang direncanakan, masih kurang menyentuh terhadap masyarakat. Mereka tampak terlalu asyik pada kegiatan bimbingan dan mengajar, baik di lembaga diniyah atau formal.
Saat kami baru sampai (kira-kira pukul 10 lewat beberapa menit, nah...mungkin persiapan Qailulah ini
Alih-alih menggerakkan masyarakat, mengatur anggota kelompoknya saja, ketua dengan sekretaris belum bisa. Siapa bertugas membantu di sekolah? Siapa yang harus keliling lingkungan sekitar? Siapa yang bertugas membantu di gudang? Tak ada jadwal, tak ada pembagian tugas, semua berjalan natural, menunggu panggilan masyarakat dan menanti pakon dari pengasuh.
Padahal, jika mereka mau membuka mata lebar-lebar, ada banyak kesempatan yang terbuka untuk posko I.
Sampai di sini, jelas sudah... Pengabdian bukan di ruang kelas, tak bisa hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Butuh kepekaan sosial yang tinggi, kesabaran dan kesungguhan di dalam menjalani.
Sebagai penutup catatan ringkas ini, berikut petikan percakapan panitia dengan Ketua Posko;
Panitia:" Bah... saran, masukan ban daftar hadir GPL ma' tak e esse'e nika? Ca'na baarik GPL-la entar ka'enja
Faidi: " Duh, ganikana pak...baarik laju tak mikkere ka ganika sakale, emok ban se mangganga Juko'''
Panitia: " Ehm...aberrik pestepes GPL"
AMBON-SOLO-BANDUNG-MERAUKE
Catatan Posko II
Setelah kurang lebih 1 Jam kami berada di Ust. Hamidi (posko V), tujuan selanjutnya adalah posko II. 100 meter sebelum mencapai posko, rombongan berpapasan dengan Ketua dan Sekretaris posko II serta satu orang anggotanya, mereka hendak ke madrasah Al-Hamidiyah, diminta menemani siswa belajar.
Sepintas, kondisi umum peserta pengabdian di posko ini tak begitu jauh dengan posko sebelumnya, cukup baik. Atribut kelengkapan posko sudah terpampang rapi, proker dan cek list juga sudah ada. (Ulasan lebih lanjut perihal administrasi, silahkan sahabat Zainul menambahkan)
Hubungan dengan pengasuh juga terjalin sangat baik, walau tidak ada kegiatan tausiyah langsung dari pengasuh, akan tetapi melihat secara langsung kedekatan dan keakraban antara peserta pengabdian posko II dengan tuan rumah, sungguh sangat membanggakan.
Dalam menjalin hubungan dengan masyarakat, posko II juga sudah melaksanakan kewajiban mereka dengan cukup baik, bershilaturrahim, mendatangi alumni hingga menyebar membantu masyarakat, baik di kebun, atau di rumah-rumah. Satu kardus Mie Instan, Beras dan aneka kebutuhan dapur lainnya hasil sumbangan masyarakay, rasanya cukup menjadi bukti bahwa keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat cukup membanggakan.
Hanya dalam waktu satu minggu, rasanya mereka sudah sanggup mendatangkan rasa simpati dari masyarakat setempat. " e ka'dinto na'kana' kapolana seggut atanak dibik pak, tape narema mattana dari masyarakat agili teros"
Akan tetapi, ada sedikit ironi dari posko II asuhan Ust. Hayadi ini, tingkat kebersihan posko nampak kurang terjaga dengan baik, adanya sampah di dalam posko yang masih menumpuk, bantal yang tercecer di dalam Mushalla, ditambah sampah di halaman posko yang menggunung begitu saja, sangat mengganggu pemandangan.
Sebelum catatan ini ditutup, beberapa hal perlu diperhatikan:
1. ziarah kubur perlu dijadikan agenda kegiatan
2. Bimbingan Praktik Ubudiyah juga tak kalah penting untuk dijadikan proker.
3. Diusahakan lebih peka pada lingkungan sekitar.
Terahir, kami (panitia) tetap menunggu inovasi-inovasi yang ditampilkan dari posko II, kami yakin bakal ada kejutan luar biasa dari GPL yang sudah kenyang pengalaman sebagai sekretaris panitia MPS, GPL yang sudah handal & teruji, yang tak pernah mengeluh. Jangankan kerikil tak berdosa, laut dan Gunungpun akan takluk di tangan dinginnya.
Setelah kurang lebih 1 Jam kami berada di Ust. Hamidi (posko V), tujuan selanjutnya adalah posko II. 100 meter sebelum mencapai posko, rombongan berpapasan dengan Ketua dan Sekretaris posko II serta satu orang anggotanya, mereka hendak ke madrasah Al-Hamidiyah, diminta menemani siswa belajar.
Sepintas, kondisi umum peserta pengabdian di posko ini tak begitu jauh dengan posko sebelumnya, cukup baik. Atribut kelengkapan posko sudah terpampang rapi, proker dan cek list juga sudah ada. (Ulasan lebih lanjut perihal administrasi, silahkan sahabat Zainul menambahkan)
Hubungan dengan pengasuh juga terjalin sangat baik, walau tidak ada kegiatan tausiyah langsung dari pengasuh, akan tetapi melihat secara langsung kedekatan dan keakraban antara peserta pengabdian posko II dengan tuan rumah, sungguh sangat membanggakan.
Dalam menjalin hubungan dengan masyarakat, posko II juga sudah melaksanakan kewajiban mereka dengan cukup baik, bershilaturrahim, mendatangi alumni hingga menyebar membantu masyarakat, baik di kebun, atau di rumah-rumah. Satu kardus Mie Instan, Beras dan aneka kebutuhan dapur lainnya hasil sumbangan masyarakay, rasanya cukup menjadi bukti bahwa keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat cukup membanggakan.
Hanya dalam waktu satu minggu, rasanya mereka sudah sanggup mendatangkan rasa simpati dari masyarakat setempat. " e ka'dinto na'kana' kapolana seggut atanak dibik pak, tape narema mattana dari masyarakat agili teros"
Akan tetapi, ada sedikit ironi dari posko II asuhan Ust. Hayadi ini, tingkat kebersihan posko nampak kurang terjaga dengan baik, adanya sampah di dalam posko yang masih menumpuk, bantal yang tercecer di dalam Mushalla, ditambah sampah di halaman posko yang menggunung begitu saja, sangat mengganggu pemandangan.
Sebelum catatan ini ditutup, beberapa hal perlu diperhatikan:
1. ziarah kubur perlu dijadikan agenda kegiatan
2. Bimbingan Praktik Ubudiyah juga tak kalah penting untuk dijadikan proker.
3. Diusahakan lebih peka pada lingkungan sekitar.
Terahir, kami (panitia) tetap menunggu inovasi-inovasi yang ditampilkan dari posko II, kami yakin bakal ada kejutan luar biasa dari GPL yang sudah kenyang pengalaman sebagai sekretaris panitia MPS, GPL yang sudah handal & teruji, yang tak pernah mengeluh. Jangankan kerikil tak berdosa, laut dan Gunungpun akan takluk di tangan dinginnya.
Catatan Posko IV
Ini
posko spesial, kami sarankan, sediakan tissu sebelum berniat melanjutkan
membaca catatan kecil ini, atau sapu tangan untuk jaga-jaga air mata haru
nenetes. Mohon maaf dilarang tertawa, sebab akan melukai perasaan mereka. 


Pukul Sembilan lewat sepuluh menit, sepeda motor kami sudah parkir di halaman masjid Nurur Rasyadiyah. Dua orang anggota posko yang sedang lahap menikmati mie Sedaap di emperan masjid, terkejut melihat kedatangan kami. Satu orang tergesa-gesa membangunkan temannya di dalam kamar samping masjid, sementara satunya lagi menyambut kami dengan senyum.
Sepertinya, hampir semua anggota posko tidak kemana-mana, kecuali dua orang sedang mendapat giliran tugas membantu madrasah.
Berbarengan dengan panitia yang sedang memantau draft proker, secara tak sengaja Bapak Waka Humas mendapati anggota posko masih tidur pulas, tanpa alas, di saat temannya yang lain sudah ada di dalam kelas.
Mudah ditebak, ini pasti memang pemalas, Pak Hari membatin.
Padahal masih terlalu pagi jika niatnya tidur Qailulah, di dalam masjid pula.
Kami berempat, duduk bersama dengan anggota posko, di ruangan samping masjid. Tidak seperti posko sebelumnya, kali ini Bapak Hari ikut duduk bersama, sebab belum bisa bertemu dengan Pengasuh masjid. Menurut kabar, pengasuh sulit ditemui pada siang hari.
Setelah sahabat Zainul melaksanakan tugasnya, introgasi seputar administrasi dan kearsipan, suasana hening sejenak.
Sedari awal saya sendiri lebih memilih diam, mengamati kondisi ruangan posko yang nampak berantakan, melirik wadah makanan yang bercampur dengan segala macam kue. "Aduh... mara pengungsi korban banjir kose". Respon Zainul saat pertama kali masuk ruangan.
Kini, giliran saya yang bertugas menanyakan, apa saja yang telah mereka kerjakan serta kendala-kendala yang mereka hadapi. Dari sinilah cerita pilu itu dimulai. Berdasarkan penuturan Ketua Posko, mereka mengalami sedikit kesulitan dalam membangun relasi sosial. Mereka masih sedikit canggung untuk membuka diri, melebur ke tengah masyarakat. Sulitnya konsultasi dengan GPL, menjadi salah satu faktor mereka kebingungan di tempat pengabdian. Maklum, sinyal telepon benar-benar tidak bersahabat. Bahkan, seakan kelompok mereka menjadi kelompok paling terisolir dari komunikasi dan informasi. Secara geografis juga kurang mendukung, berada di paling ujung, berdampingan dengan Laut di sebelah timur dan hutan pohon jati di sebelah selatan.
Faktor lainnya adalah karena belum maksimal menjalin hubungan dengan pengasuh masjid, juga bisa dimaklumi sebenarnya. Sebab kewajiban lain pengasuh, sehingga sulit anggota posko untuk meminta arahan dan bimbingan. Dan membuat hati miris lagi, ternyata GPL posko inipun ternyata menitip peserta hanya kepada Ketua Takmir, karena pengasuh sedang ada tanggung jawab di luar.
Selain dua faktor di atas, penyebab lain yang membuat posko ini 'kurang sehat' adalah kondisi internal yang kurang harmonis.
" kendalana bada anggota se korang semangat pak, se parah esoro ka barak entar ka temur, pokok ngalak karebba dibik nah, ganika malessoan ka se laen jugan. " Keluh sang ketua.
Dalam hal ini, besar harapan kami pada GPL untuk segera mengunjungi mereka, sebab satu-satunya posko yang masih 'perawan' dikunjingi GPL. Ada banyak PR yang perlu dikerjakan dan membutuhkan bantuan GPL.
Kendati demikian, di tengah-tengah rumitnya persoalan, banyaknya tantangan dan rintangan, kami masih melihat cahaya harapan dari sebagian peserta yang dengan penuh semangat, ikhlas dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas pengabdian. Mereka yang tidak betah jika ada di posko, mereka yang dengan rela meluangkan waktu istirahat demi mencari masyarakat yang butuh bantuan. Mereka yang berebut memberi minum Hewan ternak, walau tidak diperkenankan masih memaksa, hingga saling tarik menarik dengan pemilik Sapi.


Oh...ya, untuk Ketua posko dan sekretaris, tak usah kendor semangatnya, jangan sampai lemas, apalagi putus asa. Ini baru awal, waktu kalian masih banyak, terus belajar dari kegagalan. Yakinlah badai pasti berlalu. Bagaimanapun juga kami panitia justru sangat kagum pada kalian. Walau dalam kondisi pincang seperti ini, dengan segala keterbatasan, kalian masih sanggup menyelesaikan dengan baik tanggung jawab pembuatan program kerja, cek list dan administrasi lainnya. Kalian sanggup bertahan menghadapi gelombang cobaan dan rintangan, hanya orang berjiwa pemberani dan tangguh yang berhasil melewati arus dan ganasnya ombak di lautan.
Terakhir...tanpa menunggu perayaan Haflah, izinkan saya pribadi, mengucapkan selamat; "Kalianlah juara di hati kami!!!.
Pukul Sembilan lewat sepuluh menit, sepeda motor kami sudah parkir di halaman masjid Nurur Rasyadiyah. Dua orang anggota posko yang sedang lahap menikmati mie Sedaap di emperan masjid, terkejut melihat kedatangan kami. Satu orang tergesa-gesa membangunkan temannya di dalam kamar samping masjid, sementara satunya lagi menyambut kami dengan senyum.
Sepertinya, hampir semua anggota posko tidak kemana-mana, kecuali dua orang sedang mendapat giliran tugas membantu madrasah.
Berbarengan dengan panitia yang sedang memantau draft proker, secara tak sengaja Bapak Waka Humas mendapati anggota posko masih tidur pulas, tanpa alas, di saat temannya yang lain sudah ada di dalam kelas.
Mudah ditebak, ini pasti memang pemalas, Pak Hari membatin.
Padahal masih terlalu pagi jika niatnya tidur Qailulah, di dalam masjid pula.
Kami berempat, duduk bersama dengan anggota posko, di ruangan samping masjid. Tidak seperti posko sebelumnya, kali ini Bapak Hari ikut duduk bersama, sebab belum bisa bertemu dengan Pengasuh masjid. Menurut kabar, pengasuh sulit ditemui pada siang hari.
Setelah sahabat Zainul melaksanakan tugasnya, introgasi seputar administrasi dan kearsipan, suasana hening sejenak.
Sedari awal saya sendiri lebih memilih diam, mengamati kondisi ruangan posko yang nampak berantakan, melirik wadah makanan yang bercampur dengan segala macam kue. "Aduh... mara pengungsi korban banjir kose". Respon Zainul saat pertama kali masuk ruangan.
Kini, giliran saya yang bertugas menanyakan, apa saja yang telah mereka kerjakan serta kendala-kendala yang mereka hadapi. Dari sinilah cerita pilu itu dimulai. Berdasarkan penuturan Ketua Posko, mereka mengalami sedikit kesulitan dalam membangun relasi sosial. Mereka masih sedikit canggung untuk membuka diri, melebur ke tengah masyarakat. Sulitnya konsultasi dengan GPL, menjadi salah satu faktor mereka kebingungan di tempat pengabdian. Maklum, sinyal telepon benar-benar tidak bersahabat. Bahkan, seakan kelompok mereka menjadi kelompok paling terisolir dari komunikasi dan informasi. Secara geografis juga kurang mendukung, berada di paling ujung, berdampingan dengan Laut di sebelah timur dan hutan pohon jati di sebelah selatan.
Faktor lainnya adalah karena belum maksimal menjalin hubungan dengan pengasuh masjid, juga bisa dimaklumi sebenarnya. Sebab kewajiban lain pengasuh, sehingga sulit anggota posko untuk meminta arahan dan bimbingan. Dan membuat hati miris lagi, ternyata GPL posko inipun ternyata menitip peserta hanya kepada Ketua Takmir, karena pengasuh sedang ada tanggung jawab di luar.
Selain dua faktor di atas, penyebab lain yang membuat posko ini 'kurang sehat' adalah kondisi internal yang kurang harmonis.
" kendalana bada anggota se korang semangat pak, se parah esoro ka barak entar ka temur, pokok ngalak karebba dibik nah, ganika malessoan ka se laen jugan. " Keluh sang ketua.
Dalam hal ini, besar harapan kami pada GPL untuk segera mengunjungi mereka, sebab satu-satunya posko yang masih 'perawan' dikunjingi GPL. Ada banyak PR yang perlu dikerjakan dan membutuhkan bantuan GPL.
Kendati demikian, di tengah-tengah rumitnya persoalan, banyaknya tantangan dan rintangan, kami masih melihat cahaya harapan dari sebagian peserta yang dengan penuh semangat, ikhlas dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas pengabdian. Mereka yang tidak betah jika ada di posko, mereka yang dengan rela meluangkan waktu istirahat demi mencari masyarakat yang butuh bantuan. Mereka yang berebut memberi minum Hewan ternak, walau tidak diperkenankan masih memaksa, hingga saling tarik menarik dengan pemilik Sapi.
Oh...ya, untuk Ketua posko dan sekretaris, tak usah kendor semangatnya, jangan sampai lemas, apalagi putus asa. Ini baru awal, waktu kalian masih banyak, terus belajar dari kegagalan. Yakinlah badai pasti berlalu. Bagaimanapun juga kami panitia justru sangat kagum pada kalian. Walau dalam kondisi pincang seperti ini, dengan segala keterbatasan, kalian masih sanggup menyelesaikan dengan baik tanggung jawab pembuatan program kerja, cek list dan administrasi lainnya. Kalian sanggup bertahan menghadapi gelombang cobaan dan rintangan, hanya orang berjiwa pemberani dan tangguh yang berhasil melewati arus dan ganasnya ombak di lautan.
Terakhir...tanpa menunggu perayaan Haflah, izinkan saya pribadi, mengucapkan selamat; "Kalianlah juara di hati kami!!!.
Catatan Posko V
Secara umum kondisi posko V baik, Program kerja sudah dirancang, dibuat ceklist serta kelengkapan administrasi lainnya cukup lengkap (walau mungkin ada beberapa yang harus dibenahi, silahkan Sahabat Zainol Hasan menambah).
Pola hubungan dengan pengasuh posko juga terjalin baik, hal ini dibuktikan dengan kegiatan mauidzah dari pengasuh bagi seluruh peserta pengabdian pada waktu-waktu tertentu. Menjadi keuntungan tersendiri bagi posko V, pengawasan dari pengasuh mushalla sangat tinggi, ditambah lagi salah satu alumni MA NASA (Bapak Ismail) yang aktif mendorong dan memberikan arahan demi suksesnya kegiatan.
Pola interaksi sosial peserta pengabdian dengan masyarakat juga terjalin cukup baik. Kegiatan bersih-bersih jalan, Baksos di Masjid atau di Kuburan juga sudah terlaksana dengan baik. Paling tidak, untuk menarik simpati masyarakat kegiatan yang dilakukan oleh posko V sudah bagus.
Setidaknya, adanya daftar antrian masyarakat untuk menyumbang makanan bagi peserta pengabdian (menurut pengasuh mushalla), menjadi bukti tak terelakkan bahwa masyarakat sangat mengapresiasi kinerja posko.
Nah... namun jangan berpuas dulu, tentu juga ada sedikit catatan perbaikan. Segenap elemen posko (seluruh anggota dan GPL) perlu kiranya menganalisis ulang kegiatan yang telah dirancang guna pengembangan gerakan. Sebab dampak kegiatan dari berbagai program, terasa belum punya nilai tawar yang lebih, masih hambar, terkesan itu-itu saja, belum ada terobosan baru. Bahkan terkesan jalan di tempat (Kata Sahabat Zainul; aenter-enter e rongkangnga dibik perak
). Respon masyarakat hanya sampai
pada level simpati, terkesan atau mungkin kasihan saja. Untuk sampai pada tahap
bisa menggerakkan rasanya perlu upaya lebih keras.
Padahal, seandainya mau membuka ruang, dan berani pada tantangan, potensi yang ada di kelompok V sangat besar. Apa saja potensi besarnya? Bisakah kelompok V keluar dari zona nyaman, menjadikan tantangan sebagai peluang emas bertabur berlian?
Kita nantikan bersama gebrakan dari GPL Ust. Suyuti dan prajuritnya.
Secara umum kondisi posko V baik, Program kerja sudah dirancang, dibuat ceklist serta kelengkapan administrasi lainnya cukup lengkap (walau mungkin ada beberapa yang harus dibenahi, silahkan Sahabat Zainol Hasan menambah).
Pola hubungan dengan pengasuh posko juga terjalin baik, hal ini dibuktikan dengan kegiatan mauidzah dari pengasuh bagi seluruh peserta pengabdian pada waktu-waktu tertentu. Menjadi keuntungan tersendiri bagi posko V, pengawasan dari pengasuh mushalla sangat tinggi, ditambah lagi salah satu alumni MA NASA (Bapak Ismail) yang aktif mendorong dan memberikan arahan demi suksesnya kegiatan.
Pola interaksi sosial peserta pengabdian dengan masyarakat juga terjalin cukup baik. Kegiatan bersih-bersih jalan, Baksos di Masjid atau di Kuburan juga sudah terlaksana dengan baik. Paling tidak, untuk menarik simpati masyarakat kegiatan yang dilakukan oleh posko V sudah bagus.
Setidaknya, adanya daftar antrian masyarakat untuk menyumbang makanan bagi peserta pengabdian (menurut pengasuh mushalla), menjadi bukti tak terelakkan bahwa masyarakat sangat mengapresiasi kinerja posko.
Nah... namun jangan berpuas dulu, tentu juga ada sedikit catatan perbaikan. Segenap elemen posko (seluruh anggota dan GPL) perlu kiranya menganalisis ulang kegiatan yang telah dirancang guna pengembangan gerakan. Sebab dampak kegiatan dari berbagai program, terasa belum punya nilai tawar yang lebih, masih hambar, terkesan itu-itu saja, belum ada terobosan baru. Bahkan terkesan jalan di tempat (Kata Sahabat Zainul; aenter-enter e rongkangnga dibik perak
Padahal, seandainya mau membuka ruang, dan berani pada tantangan, potensi yang ada di kelompok V sangat besar. Apa saja potensi besarnya? Bisakah kelompok V keluar dari zona nyaman, menjadikan tantangan sebagai peluang emas bertabur berlian?
Kita nantikan bersama gebrakan dari GPL Ust. Suyuti dan prajuritnya.
Ayat-Ayat Allah (catatan perjalanan MPS)
Oleh: Hayadi,
S.Pd
Pada hari kamis tgl 27 Desember 2018 adalah hari keberangkatan santri MPS menuju lokasi di Talango Poteran. Saya salah satu GPL (Guru Pembimbing Lapangan) yang harus ikut serta dalam rombongan Santri MPS tersebut guna memasrahkn sepenuhnya kepada Kiai/Ustad disana untuk membimbing, memberikan arahan pada para santri, taip di lain hal, pada hari itu saya harus menghadiri undangan tetangga terlebih dahulu yang kebetulan keberangkatan santri MPS sama waktunya dengan undangan, lain lagi setelah itu saya harus mengantar nasi ke sawah untuk para pekerja.
Keinginan hati, saya harus bisa melakukan hal tersebut tanpa tercecer
sehingga tidak terkesan merusak program panitia yang telah terencana dengan
baik, akhirnya saya harus mengejar keterlambatan saya untuk mengiringi
rombongan santri dengan jalan pintas melalui perahu kecil di desa Takerbhuy
untuk menuju pelabuhan Kalianget yang sudah menunggunya sejak tadi dan setelah
itu saya pun harus menyebrangi lautan dengan perahu agak besar (Tonkang) untuk
sampai ke pulau Poteran yang merupakan tempat dimana para santri MPS itu akan
melakukan pengabdiannya.
Setelah berlalu dari dermaga Talango, sesegera mungkin kutancapkan gas motor bak Valentine Rossy mengejar lawanya, satu jam berlalu dari perjalanan,tak lupa aku tanyakan pada orang di pinggir jalan akan tempat yg saya tuju, karena informasi dari panitia kurang falid dan sinyal hp yg begitu minim disana sehingga membuat saya selalu bertanya pada orang-orang di tempat yang memungkinkan kalau tempat yang saya tuju itu sdh dekat, sebagaimana kata pepatah: "malu bertanya sesat di jalan".
Setelah lama sering bertanya, akhirnya sampai juga pada tempat yang saya
tuju, menurut saya, karena nama mesjid n desanya sudah benar tapi kok tidak keliatan
para santri disana, akhirnya salah seorang menyuruh saya untuk menemui salah
seorang sesepuh yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari masjid yang berada di
pinggir jalan, selang beberapa menit bertamu pada sesepuh lalu salah seorang panitia
yang memang siap untuk menggantikan saya menghubungi saya kalau tempat yang saya
tuju di ......(dg lengkap), akhirnya saya pamit pada sesepuh kalau ini bukanlah
tempat yang saya tuju, walaupun ia selalu mengajak saya untuk tidak terburu-buru
agar bisa ngobrol panjang lebar mengenai MPS,dan ia selalu meminta saya untuk
bisa memberikan beberapa santri untuk bisa menempati daerah sesepuh itu dalam
pengabdianya pada hari itu juga, batin saya berkata: "apa makna ayat Allah
ini".
Mendengar informasi yang sudah falid dari panitia, kembali saya menikmati
pencarian tempat yang saya tuju bersama motor hasil jerih payah saya yang selalu
menemani saya dalam kesepian perjalanan, disaat sudah hampir dekat lokasi yang saya
tuju, tiba-tiba kerikil-kerikil tak berdosa mengusik saya sehingga membuat saya
terpleset dan jatuh dari motor yang
mengakibatkan sedikit lecet lutut sampai-sampai seorang ibu menolong mendirikan
motor yang telah menimpa saya dan sambil menenangkan ibu kalau saya tidak apa-apa
walaupun rasa nyerih pada lutut masih terasa, saya bertanya pada dia, apa benar
ini ...... (tempat yg diinformasikn panitia), lagi-lagi saya kebingungan karena
tempat sudah benar sebagaimana dikatakan panitia tapi ibu tidak melihat ada
rombongan santri datang ke tempat/mesjid itu, lalu ibu itu menunjukkan arah
dimana tempat/mesjid dan pengasuh dengan nama yang sama juga ada disana, selang
beberapa menit untuk sampai kesana lalu bertemu dengan GPL dan Panitia yang
lain beserta para santri dengan senyum penuh tanda tanya dan ia pun mengantar
saya dimana tempat yang saya tuju.
Dan setibanya disana, saya lihat para santri langsung melakukan salah
satu bentuk pengabdianya yaitu takziyah ke tetangga sebelum mereka melepas
lelah dan mengemasi barang-barang yang dibawanya yang mana rumah shohibul
mushibah tersebut sangat berdekatan dengan lokasi Pengasuh dan tempat MPS.
Seakan-akan bentuk hamparan pengabdian sudah menyambut kedatangannya. Sehingga
menimbulkan tanda tanya: apa makna ayat kedua yg diberikan Allah ini.
Tulisan Faishol Putra K. Masnan Gapura Tengah untuk gurunya, Kyai Syahid
GURU. Pak Syahid guru Bahasa Arab kami saat Tsanawiyah-Aliyah di Nasyatul Muta'allimin, Gapura, Sumenep, Madura, dulu. Dia bukan lulusan pesantren terkenal, hanya lulusan Aliyah di madrasah kami. Tapi dia pandai dan paham betul Bahasa Arab. Lidahnya juga Ngarab.
Metode mengajarnya menyenangkan, padahal dia bukan sarjana pendidikan. Saat mengajar, pengantarnya bahasa Arab. Tak boleh Madura atau Indonesia. Ismahi-lii an atakallam bil-lughatil 'arobiyyah..., itu kalimat yang saya ingat sampai sekarang saat disuruh maju dan bercakap Arab oleh Pak Syahid.
2000 awal, Pak Syahid menginap di kampus kami di Surabaya. Dia ikut pelatihan. Malam saat santai, kami ajak beliau ngopi di dekat kampus. Teman2nya ikut. Di warung kopi, kami hanya plonga-plongo. Pak Syahid sudah fasih bercakap2 Bahasa Inggris dengan teman2nya. Lidahnya saat itu sudah Nginggris. Padahal, beliau bukan sarjana bahasa.
Cerita teman sebayanya, dulu di kelas Pak Syahid suka tidur. Tapi dia selalu bisa menjawab saat ditanya materi yang diajarkan sang guru. "Setiap malam aku baca buku semalaman, makanya ketika di kelas aku biasa tertidur. Aku bisa jawab pertanyaan guru karena sudah baca duluan, bukan karena ladunni."
Sehat selalu, Guru. Amien...
Cerita Santri yang Ta’Dhim
Ta'dhim pada Guru sudah
menjadi kebiasaan dari karakter santri terhadap Guru kita, kata KH. Asy'ari
Marzid saat memberi taushiyah kepada santri kelas akhir Madrasah
Aliyah Nasy'atul Muta'allimin Putra Gapura. lebih lanjut beliau berkata: Jika ingin memperoleh ilmu
yang barokah dan manfaat maka seorang Santri wajib Ta'dhim pada Gurunya dan tidak boleh
membeda-bedakan guru, mulai dari guru yang pertama sampai guru terakhir, Beliau
menjelaskan tentang makna dari Ta'dhim secara rinci yang sangat menyejukkan
hati. begitulah bila seorang Kia bercerita dengan ikhlas, ia selalu menyejukkan, sebab ia terbebas dari kepentingan apa pun.
KH. Asy'ari memberi semacam gambaran
dengan sebuah cerita lama terkait dengan Ta'dhimnya Santri pada Gurunya yang pantas dijadikan cermin bagi generasi berikutnya. Beliau berkata: Dulu
ada dua santri yang sangat Ta'dhim pada Gurunnya, nah... Pada suatu hari
diwaktu sang guru qadlil hajah cincinnya (sesserra) jatuh kedalam jamban (wc)
kemudian memberi tahukan. Setelah didengar dan diketahui oleh dua santri
tersebut maka ia berdua langsung turun kedalam jamban dengan tujuan untuk
mencari cincin milik Gurunya, Berhubung karena hatinya menyatu keta'dhimannya
pada sang Guru serta ikhlas dalam berkhidmah, anehnya didalam jamban sama
sekali tidak mendengar rasa bau sedikitpun sehingga mereka berdua leluasa dalam
mencarinya yang akhirnya cincin tersebut diketemukan. Singkat cerita......,
setelah itu cincin tersebut oleh salah satu dari dua santri itu dihaturkan pada
Gurunya dengan penuh kesopanan.
Setelah cincin kembali lagi ada di
tangan sang guru, ia pun dengan merasa sangat ta'jub, langsung bertanya:
Guru ; siapa yang mencari dan
menemukan cincinku ini..??
Santri ; saya Guru...!
Guru ; sendirian...??
Santri ; tidak....!
Guru ; bersama siapa.. ??
Santri ; bersama satu teman saya
Guru....!!!
Guru : panggil ia kesini
bersamamu...!!
Setelah mereka berdua menghadap pada
Gurunya... , sang Guru itu dengan tampa terasa sambil mencucurkan air mata
karena penuh dengan senang yang luar biasa, ta'jub, kasihan, serta bangga punya
dua orang santri yang patut untuk diteladani oleh generasi berikutnya, ia
berkata: "Saat ini aku senang melihatmu, aku ridla dan akan selalu ku
do'akan semoga barokah manfa'at". Guru & Santri ; Aamien..!
Selanjutnya dengan barokahnya Ta'dhim pada Guru, dua santri tersebut bukan
hanya menjadi orang yang sangat alim akan tetapi juga diangkat Wali oleh Allah
SWT. Semoga Manfa'at. (Manshur, S.P.d.I)
Ta’dhim
Untuk menjadi santri dan murid itu tidak mudah, Kata Kiai Asy’ari. Kita
membutuhkan keta’dhiman yang harus ditanamkan dalam jiwa-jiwanya, agar menjadi
santri dan murid itu mudah, maka harus ta'dhim. Ta'dhim terhadap guru, ta’dhim
terhadap orang tua yang sekaligus guru, ta’dhin terhadap apa yang dimiliki
guru, ta’dhim terhadai anak-anak guru, dan lain-lain yang berhubungan dengan
guru. Sebab ta'dhim lebih tinggi dari pada patuh.
Dalam catatan sejarah kalau santri nyabis (soan) ke dalem kiai/guru sandalnya
dilepas dikejauhan. Itu dilakukan sebagai bentuk ta’dhim santri dan murid
terhadap guru, sebab itu adalah salah satu bagian dari proses santri dan murid
memiliki memiliki lmu yg bermfaat di dunia dan akhirat, sebab lebih baik ta’dim,
sedikit membaca, daripada banyak mebaca tapi tidak ada ta’dim. Idealnya memang
lebih banyak membaca dan belajar sekaligus ta'dhim. Ada sebuah cerita dari K.H Asy’ari
Marsuqi beliau sebagai mustasyar MWC NU Gapura beliau bercerita dulu ketika K. H.Habib
mau soan naik motor bersama K.H Hasani (santri K. Habib) ke an-Nuqayah di pertigaan
jalan pesantren tiba-tiba ada K. Fikri (waktu itu masih dan baru bisa jalan
kaki) K. Habib menepuk-nepuk pundak K. H. Hasani, “berhenti, turun” K.H Habib turun
dari sepeda motornya, setelah K. Fikri tidak ada, kemudian K. Hasani bertanya, “Mengapa
tadi jenengan turun?”, “tadi yang lari-lari itu putranya K.H Warist” jawab K.H
Habib.
Ada cerita lagi K. Afif Andulang yang lulus SD kelas 6, tapi beliau di
sekolah mampu mengajar MA, Mts dan MI, rahasianya mengapa K.H Afif yang lulusan
SD mampu mengajar di semua tingkatan, karena ilmu beliau “merdhi”,
selalu hidup. Itulah sekelimut cerita yang disampaikan K.H Asy’ari Marzuqi
ketika siswa akhir MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura melakukan Praktek baca
al-Qur’an sebagai syarat kelulusan (roni).
12 November 2018
Santri: Ta'dhim dan Patuh
Hari kedua praktek al-qur'an kepada Kiai Sepu bagi siswa akhir MA Nasy'atul Muta'allimin Gapura.
Begitulah KH. Asy'ari Marzid memberikan
taushiyah kepada santri kelas akhir Madrasah Aliyah Nasy'atul Muta'allimin
Gapura. Seorang Santri harus Ta'dhim dan Patuh kepada Gurunya. Beliau
menjelaskan Bahwa ada sedikit perbedaan antara keduanya. Sebelum menjelaskan
makna dari Ta'dhim dan Patuh, KH. Asy'ari memberikan ilustrasi/gambaran terkait
Ta'dhim dan Patuh. Misalkan Sang Kiai (guru) menyuruh santri untuk memandikan
Kuda ke sungai.
Kiai berkata " Pergilah ke sungai dengan menaiki kudaku
kemudian mandikanlah", (essa' jaran tompa' gibe ka songai pas pan di'i).
Seorang santri yang patuh akan lansung berangkat ke sungai sambil menaiki kuda
kiainya, akan tetapi santri yang ta'dhim tidak akan menunggangi kuda kiainya
meskipun Sang Kiai sudah menyuruhnya, karena merasa cangkelong. Jadi begitulah
sedikit perbedaan antara Ta'dhim dan Patuh (farid)
Apel MA dan MTs Nasy'atul Muta'allimin Gapura
upacara yang diadakan setiap setengah bulan sekali ini merupakan ajang bagi guru untuk menyampaikan pesan dan program kerja madrasah, di samping melatih siswi untuk selalu disiplin dalam belajar, termasuk disiplin dalam mengisi absensi.
pagi ini upacara atau apel diadakan sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan rutin sekaloh, tadi pagi apel disampaikan oleh kepala Mts Nasy'atul Muta'allimin Gapura mengatakan bahwa kedisiplinan merupakan hal utama dalam kesuksesan siswi dalam proses belajar dan mengajar. siapa pun yang disiplin dan semangat belajarnya bagus maka masa depannya bisa dicapai dengan baik dan mulus, artinya semua tergantung pada siswi kesuksesan itu, terangnya.
pagi ini upacara atau apel diadakan sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan rutin sekaloh, tadi pagi apel disampaikan oleh kepala Mts Nasy'atul Muta'allimin Gapura mengatakan bahwa kedisiplinan merupakan hal utama dalam kesuksesan siswi dalam proses belajar dan mengajar. siapa pun yang disiplin dan semangat belajarnya bagus maka masa depannya bisa dicapai dengan baik dan mulus, artinya semua tergantung pada siswi kesuksesan itu, terangnya.
lebih lanjut K. Anas Musthafa sebagai kepala Mts sekaligus menantu pesantren ini melanjutkan bahwa kedisiplinan merupakan saku awal bagi siapa pun ingin sukses di jenjang pendidikan.
kunci sukses adalah disiplin, dan semangat yang bagus sehingga tercapai cita-cita (roni)
Langganan:
Postingan (Atom)







